Alkisah
di suatu tempat ada seorang anak laki-laki bernama Heru. Heru mempunyai
seorang Ibu yang kehilangan satu matanya. Bila, ibunya menjemput dirinya ke sekolah, Heru tersebut tidak mau mengakui
bahwa orang yang menjemput dirinya
adalah ibunya. Heru merasa malu
kepada teman-temannya karena mata ibunya
hilang satu.
Waktu terus berlalu. Hari demi hari. Minggu demi minggu. Bulan demi bulan. Tahun demi tahun. Heru tumbuh dan berkembang menjadi seorang pria dewasa. Heru belajar dengan rajin, giat dan tekun untuk menggapai cita-citanya sebagai seorang pribadi yang sukses. Ternyata semua usaha Heru membuahkan keberhasilan. Kini, Heru menjadi seorang pegawai dengan kedudukan yang tinggi dan kehidupan yang mapan di sebuah perusahaan multinasional. Tak lama setelah itu pun, Heru menikah.
Pada suatu siang di depan rumah Heru ada suara “Tok, tok, tok.” Ternyata, ada seseorang sedang mengetuk pintu rumahnya. Anak Heru berlari kecil membuka pintu Ketika pintu rumah dibuka, ternyata seorang ibu tua renta berdiri dan bertanya dengan sopan, “Selamat siang, De. Apakah di sini ada yang bernama Bapak Heru ?” Kemudian, anak Heru bergegas bertanya kepada orang tuanya yaitu Heru dan istrinya. “Siapa ya ?” tanya Heru penasaran. Heru pun bergegas menemui ibu itu.
Waktu terus berlalu. Hari demi hari. Minggu demi minggu. Bulan demi bulan. Tahun demi tahun. Heru tumbuh dan berkembang menjadi seorang pria dewasa. Heru belajar dengan rajin, giat dan tekun untuk menggapai cita-citanya sebagai seorang pribadi yang sukses. Ternyata semua usaha Heru membuahkan keberhasilan. Kini, Heru menjadi seorang pegawai dengan kedudukan yang tinggi dan kehidupan yang mapan di sebuah perusahaan multinasional. Tak lama setelah itu pun, Heru menikah.
Pada suatu siang di depan rumah Heru ada suara “Tok, tok, tok.” Ternyata, ada seseorang sedang mengetuk pintu rumahnya. Anak Heru berlari kecil membuka pintu Ketika pintu rumah dibuka, ternyata seorang ibu tua renta berdiri dan bertanya dengan sopan, “Selamat siang, De. Apakah di sini ada yang bernama Bapak Heru ?” Kemudian, anak Heru bergegas bertanya kepada orang tuanya yaitu Heru dan istrinya. “Siapa ya ?” tanya Heru penasaran. Heru pun bergegas menemui ibu itu.
Ketika Heru bertemu dengan ibunya. Ibunya berkata dengan lembut,”Sudah lama tak berjumpa anakku. Aku hanya ingin menanyakan apa kabarmu ?” Namun, Heru berpura-pura tidak mengenal ibunya dan segera mengusirnya. Saat istrinya menanyakan itu siapa, Heru hanya menjawab hanya orang tak dikenal yang berpura-pura mencari keuntungan saja.
Beberapa tahun setelah, kejadian tersebut … Ada surat undangan untuk Heru dari sekolah tempat tinggalnya terdahulu. Setelah makan malam, Heru pun membaca surat undangan tersebut. Ternyata, sekolah Heru mengadakan acara reuni untuk para lulusan sekolahnya. Awalnya, Heru keberatan. Tetapi, rasa rindu yang besar terhadap sekolah itu, Heru memutuskan untuk mengambil cuti dan pergi menghadiri acara reuni itu.
Saat Heru tiba di sekolahnya, dia melihat teman-temannya berkumpul. Di sana, Heru mendapat sepucuk surat dari seorang tetangga. Tetangga tersebut dititipkan surat tersebut dari ibunya Heru. Segera Heru membuka surat tersebut dan membaca isinya:
“ Untuk anakku tercinta, Heru
Heru, sebelumnya Ibu meminta maaf kepadamu karena telah membuatmu malu terhadap teman-temanmu dengan kondisi fisik Ibu
Mata ibu tidak seperti orang biasa lainnya yang memiliki dua buah mata di kiri dan kanan. Namun, ada satu hal yang perlu ketahui
Ketika kamu kecil, sebelum dapat mengeluarkan kata-kata, terjadi kecelakaan yang menyebabkan matamu hilang satu. Tidak ada orang yang mau mendonorkan matanya untukmu. Selain itu, tidak ada bola mata yang cocok sebagai penggantinya. Ibu begitu khawatir terhadap masa depanmu bila engkau hanya memiliki satu buah mata saja. Sebab itu, Ibu menyumbangkan satu mata Ibu untukmu sebagai penggantinya.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar